-->
Toko Sosmed
EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI
WWW.ARDADINATA.COM WWW.ARDADINATA.COM

Daftar Artikel


Buku Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil
Lihat Detail

Buku Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil

Apakah Anda Sudah Mencoba Berbagai Cara Tapi Belum Berhasil Hamil?

Perkenalkan, saya dr. Rosdiana Ramli, SpOG. Saya penulis buku bestseller "Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil".

Buku saya sudah menolong ribuan pasangan suami istri yang sudah menikah sekian lama tapi belum mendapatkan momongan. Padahal mereka sehat dan tidak ada masalah dengan kesuburannya.

Sebelum membaca buku saya, mereka sudah mencoba berbagai cara supaya bisa segera hamil. Kebanyakan mencoba ramuan-ramuan yang tidak jelas komposisinya. Sebagian lainnya menjalankan ritual dan mitos turun temurun dari orang-orang tua. Tapi usaha mereka tidak kunjung berhasil.
Kebayang kan bagaimana rasanya sudah mencoba minum banyak suplemen tapi tidak kunjung hamil juga? Banyak dari mereka yang sudah frustrasi. Mengapa mereka gagal? Karena mereka cuma berharap dari ramuan dan suplemen. Saya tahu Anda pun seperti itu.
Misalnya, Anda perlu tahu makanan apa saja yang bisa membantu agar cepat hamil, juga perlu tahu gaya bercinta yang bagaimana yang disarankan. Anda juga harus mempraktekkan beberapa tips khusus yang sudah terbukti berhasil.

Sebenarnya faktanya seperti ini...

Untuk bisa segera hamil, tidak semudah menenggak ramuan atau suplemen saja, tapi juga HARUS TAHU apa saja yang mesti dilakukan supaya peluang hamil meningkat.

Alhamdulillah, dengan mempraktekkan isi buku "Panduan Cara Cepat Hamil" ini, mereka berhasil mendapatkan buah hati yang sudah lama mereka impikan. Selengkapnya baca programnya di sini: http://t.co/uTQEIlLST5

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
FBARDA DINATA
Twitter@ardadinata
Instagram: @arda.dinata
BBMC00447A8B
Telegramardadinata

Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis
Lihat Detail

Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis

FILARIASIS merupakan istilah lain dari penyakit kaki gajah. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.

Nyamuk adalah termasuk jenis serangga yang sebagian atau seluruh daur hidupnya berhubungan dengan air. Tepatnya, stadium pradewasa dari nyamuk (telur, jentik, dan pupa) berada di air, sedangkan masa dewasanya berada di luar perairan. Hebatnya lagi dari nyamuk ini, ia ternyata memiliki kesukaan berbeda-beda terhadap air. Ada nyamuk yang suka di air kotor, air tawar atau air payau yang jernih, dan ada pula yang suka di air yang keruh sebagai tempat berkembangbiaknya. Begitu pula dengan keadaan perairannya berbeda-beda. Ada yang banyak ditumbuhi tumbuhan air dan ada juga yang sedikit atau tidak ada sama sekali tumbuhan air.

Pertanyaannya adalah, apa hubungannya antara keberadaan tumbuhan air dengan keberadaan vektor filariasis itu? Dan bagaimana caranya untuk memberantas penyakit kaki gajah yang bikin ampun bagi penderitanya itu?

* *

SAAT ini, telah diketahui ada tiga spesies cacing filaria yang menyebabkan terjadinya penyakit kaki gajah, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia timori, dan Brugia malayi. Sementara itu, nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah di Indonesia telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Aedes, Armigeres, dan Mansonia.

Keberadaan beberapa jenis tumbuhan air tertentu di suatu perairan erat kaitannya dengan keberadaan nyamuk sebagai tempat inangnya. Adalah nyamuk Mansonia sp. yang telur, larva dan pupanya tidak terlepas dari keberadaan tumbuhan air (tumbuhan inang) di perairan.

Menurut Hadi Suwasono (1996), telur Mansonia ditemukan melekat pada permukaan bawah daun tumbuhan inang dalam bentuk kelompok yang terdiri dari 10-16 butir. Telurnya berbentuk lonjong dengan salah satu ujungnya meruncing. Lalu, larva dan pupanya melekat pada akar atau batang tumbuhan air dengan menggunakan alat kaitnya. Alat kait tersebut, kalau pada larva terdapat pada ujung sifhon, sedangkan pada pupa ditemukan pada terompet. Sehingga, dengan alat kait itu, baik sifhon maupun terompet dapat berhubungan langsung dengan udara (oksigen) yang ada dijaringan udara tumbuhan air.


* *

KEBERADAAN tumbuhan air mutlak diperlukan bagi kehidupan nyamuk Mansonia, dan kita tahu bersama kalau spesies nyamuk ini merupakan salah satu vektor penularan dari penyakit kaki gajah. Adapun tumbuhan air yang dijadikan sebagai inang Mansonia sp., antara lain eceng gondok, kayambang, dan lainnya.

Akhirnya, untuk memberantas dan memutuskan penularan penyakit kaki gajah ini, selain melakukan pengobatan pada penderita juga perlu dilakukan pemberantasan vektor penyakitnya. Caranya, bisa dengan menggunakan insektisida atau secara tidak langsung dengan herbisida yang mematikan tumbuhan inangnya. Atau bisa juga secara mekanis melakukan pembersihan perairan dari tumbuhan air yang dijadikan inang oleh nyamuk Mansonia sp.***

Arda Dinata,
Teknisi Litkayasa di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbang Kesehatan Depkes.

Yayan Sofyan,
Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bakti Kencana, Bandung.

Catatan: Artikel ini pernah dimuat koran  Pikiran Rakyat Bandung edisi 9 Maret 2006. 
FILARIASIS merupakan istilah lain dari penyakit kaki gajah. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.

Nyamuk adalah termasuk jenis serangga yang sebagian atau seluruh daur hidupnya berhubungan dengan air. Tepatnya, stadium pradewasa dari nyamuk (telur, jentik, dan pupa) berada di air, sedangkan masa dewasanya berada di luar perairan. Hebatnya lagi dari nyamuk ini, ia ternyata memiliki kesukaan berbeda-beda terhadap air. Ada nyamuk yang suka di air kotor, air tawar atau air payau yang jernih, dan ada pula yang suka di air yang keruh sebagai tempat berkembangbiaknya. Begitu pula dengan keadaan perairannya berbeda-beda. Ada yang banyak ditumbuhi tumbuhan air dan ada juga yang sedikit atau tidak ada sama sekali tumbuhan air.

Pertanyaannya adalah, apa hubungannya antara keberadaan tumbuhan air dengan keberadaan vektor filariasis itu? Dan bagaimana caranya untuk memberantas penyakit kaki gajah yang bikin ampun bagi penderitanya itu?

* *

SAAT ini, telah diketahui ada tiga spesies cacing filaria yang menyebabkan terjadinya penyakit kaki gajah, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia timori, dan Brugia malayi. Sementara itu, nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah di Indonesia telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Aedes, Armigeres, dan Mansonia.

Keberadaan beberapa jenis tumbuhan air tertentu di suatu perairan erat kaitannya dengan keberadaan nyamuk sebagai tempat inangnya. Adalah nyamuk Mansonia sp. yang telur, larva dan pupanya tidak terlepas dari keberadaan tumbuhan air (tumbuhan inang) di perairan.

Menurut Hadi Suwasono (1996), telur Mansonia ditemukan melekat pada permukaan bawah daun tumbuhan inang dalam bentuk kelompok yang terdiri dari 10-16 butir. Telurnya berbentuk lonjong dengan salah satu ujungnya meruncing. Lalu, larva dan pupanya melekat pada akar atau batang tumbuhan air dengan menggunakan alat kaitnya. Alat kait tersebut, kalau pada larva terdapat pada ujung sifhon, sedangkan pada pupa ditemukan pada terompet. Sehingga, dengan alat kait itu, baik sifhon maupun terompet dapat berhubungan langsung dengan udara (oksigen) yang ada dijaringan udara tumbuhan air.


* *

KEBERADAAN tumbuhan air mutlak diperlukan bagi kehidupan nyamuk Mansonia, dan kita tahu bersama kalau spesies nyamuk ini merupakan salah satu vektor penularan dari penyakit kaki gajah. Adapun tumbuhan air yang dijadikan sebagai inang Mansonia sp., antara lain eceng gondok, kayambang, dan lainnya.

Akhirnya, untuk memberantas dan memutuskan penularan penyakit kaki gajah ini, selain melakukan pengobatan pada penderita juga perlu dilakukan pemberantasan vektor penyakitnya. Caranya, bisa dengan menggunakan insektisida atau secara tidak langsung dengan herbisida yang mematikan tumbuhan inangnya. Atau bisa juga secara mekanis melakukan pembersihan perairan dari tumbuhan air yang dijadikan inang oleh nyamuk Mansonia sp.***

Arda Dinata,
Teknisi Litkayasa di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbang Kesehatan Depkes.

Yayan Sofyan,
Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bakti Kencana, Bandung.

Catatan: Artikel ini pernah dimuat koran  Pikiran Rakyat Bandung edisi 9 Maret 2006. 
FILARIASIS merupakan istilah lain dari penyakit kaki gajah. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.

Nyamuk adalah termasuk jenis serangga yang sebagian atau seluruh daur hidupnya berhubungan dengan air. Tepatnya, stadium pradewasa dari nyamuk (telur, jentik, dan pupa) berada di air, sedangkan masa dewasanya berada di luar perairan. Hebatnya lagi dari nyamuk ini, ia ternyata memiliki kesukaan berbeda-beda terhadap air. Ada nyamuk yang suka di air kotor, air tawar atau air payau yang jernih, dan ada pula yang suka di air yang keruh sebagai tempat berkembangbiaknya. Begitu pula dengan keadaan perairannya berbeda-beda. Ada yang banyak ditumbuhi tumbuhan air dan ada juga yang sedikit atau tidak ada sama sekali tumbuhan air.

Pertanyaannya adalah, apa hubungannya antara keberadaan tumbuhan air dengan keberadaan vektor filariasis itu? Dan bagaimana caranya untuk memberantas penyakit kaki gajah yang bikin ampun bagi penderitanya itu?

* *

SAAT ini, telah diketahui ada tiga spesies cacing filaria yang menyebabkan terjadinya penyakit kaki gajah, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia timori, dan Brugia malayi. Sementara itu, nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah di Indonesia telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Aedes, Armigeres, dan Mansonia.

Keberadaan beberapa jenis tumbuhan air tertentu di suatu perairan erat kaitannya dengan keberadaan nyamuk sebagai tempat inangnya. Adalah nyamuk Mansonia sp. yang telur, larva dan pupanya tidak terlepas dari keberadaan tumbuhan air (tumbuhan inang) di perairan.

Menurut Hadi Suwasono (1996), telur Mansonia ditemukan melekat pada permukaan bawah daun tumbuhan inang dalam bentuk kelompok yang terdiri dari 10-16 butir. Telurnya berbentuk lonjong dengan salah satu ujungnya meruncing. Lalu, larva dan pupanya melekat pada akar atau batang tumbuhan air dengan menggunakan alat kaitnya. Alat kait tersebut, kalau pada larva terdapat pada ujung sifhon, sedangkan pada pupa ditemukan pada terompet. Sehingga, dengan alat kait itu, baik sifhon maupun terompet dapat berhubungan langsung dengan udara (oksigen) yang ada dijaringan udara tumbuhan air.


* *

KEBERADAAN tumbuhan air mutlak diperlukan bagi kehidupan nyamuk Mansonia, dan kita tahu bersama kalau spesies nyamuk ini merupakan salah satu vektor penularan dari penyakit kaki gajah. Adapun tumbuhan air yang dijadikan sebagai inang Mansonia sp., antara lain eceng gondok, kayambang, dan lainnya.

Akhirnya, untuk memberantas dan memutuskan penularan penyakit kaki gajah ini, selain melakukan pengobatan pada penderita juga perlu dilakukan pemberantasan vektor penyakitnya. Caranya, bisa dengan menggunakan insektisida atau secara tidak langsung dengan herbisida yang mematikan tumbuhan inangnya. Atau bisa juga secara mekanis melakukan pembersihan perairan dari tumbuhan air yang dijadikan inang oleh nyamuk Mansonia sp.***

Arda Dinata,
Teknisi Litkayasa di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbang Kesehatan Depkes.

Yayan Sofyan,
Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bakti Kencana, Bandung.

Catatan: Artikel ini pernah dimuat koran  Pikiran Rakyat Bandung edisi 9 Maret 2006. 
FILARIASIS merupakan istilah lain dari penyakit kaki gajah. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.

Nyamuk adalah termasuk jenis serangga yang sebagian atau seluruh daur hidupnya berhubungan dengan air. Tepatnya, stadium pradewasa dari nyamuk (telur, jentik, dan pupa) berada di air, sedangkan masa dewasanya berada di luar perairan. Hebatnya lagi dari nyamuk ini, ia ternyata memiliki kesukaan berbeda-beda terhadap air. Ada nyamuk yang suka di air kotor, air tawar atau air payau yang jernih, dan ada pula yang suka di air yang keruh sebagai tempat berkembangbiaknya. Begitu pula dengan keadaan perairannya berbeda-beda. Ada yang banyak ditumbuhi tumbuhan air dan ada juga yang sedikit atau tidak ada sama sekali tumbuhan air.

Pertanyaannya adalah, apa hubungannya antara keberadaan tumbuhan air dengan keberadaan vektor filariasis itu? Dan bagaimana caranya untuk memberantas penyakit kaki gajah yang bikin ampun bagi penderitanya itu?

* *

SAAT ini, telah diketahui ada tiga spesies cacing filaria yang menyebabkan terjadinya penyakit kaki gajah, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia timori, dan Brugia malayi. Sementara itu, nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah di Indonesia telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Aedes, Armigeres, dan Mansonia.

Keberadaan beberapa jenis tumbuhan air tertentu di suatu perairan erat kaitannya dengan keberadaan nyamuk sebagai tempat inangnya. Adalah nyamuk Mansonia sp. yang telur, larva dan pupanya tidak terlepas dari keberadaan tumbuhan air (tumbuhan inang) di perairan.

Menurut Hadi Suwasono (1996), telur Mansonia ditemukan melekat pada permukaan bawah daun tumbuhan inang dalam bentuk kelompok yang terdiri dari 10-16 butir. Telurnya berbentuk lonjong dengan salah satu ujungnya meruncing. Lalu, larva dan pupanya melekat pada akar atau batang tumbuhan air dengan menggunakan alat kaitnya. Alat kait tersebut, kalau pada larva terdapat pada ujung sifhon, sedangkan pada pupa ditemukan pada terompet. Sehingga, dengan alat kait itu, baik sifhon maupun terompet dapat berhubungan langsung dengan udara (oksigen) yang ada dijaringan udara tumbuhan air.


* *

KEBERADAAN tumbuhan air mutlak diperlukan bagi kehidupan nyamuk Mansonia, dan kita tahu bersama kalau spesies nyamuk ini merupakan salah satu vektor penularan dari penyakit kaki gajah. Adapun tumbuhan air yang dijadikan sebagai inang Mansonia sp., antara lain eceng gondok, kayambang, dan lainnya.

Akhirnya, untuk memberantas dan memutuskan penularan penyakit kaki gajah ini, selain melakukan pengobatan pada penderita juga perlu dilakukan pemberantasan vektor penyakitnya. Caranya, bisa dengan menggunakan insektisida atau secara tidak langsung dengan herbisida yang mematikan tumbuhan inangnya. Atau bisa juga secara mekanis melakukan pembersihan perairan dari tumbuhan air yang dijadikan inang oleh nyamuk Mansonia sp.***

Arda Dinata,
Teknisi Litkayasa di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbang Kesehatan Depkes.

Yayan Sofyan,
Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bakti Kencana, Bandung.

Catatan: Artikel ini pernah dimuat koran  Pikiran Rakyat Bandung edisi 9 Maret 2006. 
Nyamuk dan Budidaya Ikan
Lihat Detail

Nyamuk dan Budidaya Ikan


Blood Suckers!: Deadly Mosquito Bites (24/7: Science Behind the Scenes)Nyamuk dan Budidaya Ikan

PENYAKIT yang ditularkan nyamuk masih terus terjadi di wilayah Priangan, seperti di beritakan HU. Priangan dalam beberapa edisi. Warga yang terkena penyakit Filariasi (Kaki Gajah) di Kab. Tasik bertambah 3 orang. Semula, jumlah penderita ada 43 orang, namun saat ini bertambah menjadi 46 orang (Priangan, 7/1/2010). Diduga akibat pemanasan global, kawasan Desa Batulawang dan Desa Karyamukti Kota Banjar menjadi endemik Chikungunya. Jumlah penderita penyakit tersebut sebanyak 49 orang (Priangan, 8/1/2010). Sejak dua bulan lalu, ratusan warga Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis diduga (suspect) menderita Chikungunya (Priangan, 8/1/2010). Memasuki bulan Januari 2010, korban Chikungunya di wilayah Kec. Banjarsari cenderung meningkat secara singnifikan (Priangan, 9/1/2010).






ILMU MENJADI KAYA
3 JURUS Ampuh Menghasilkan UANG MELIMPAH Dari Internet. Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.




RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income 5 Jt/Bln? Ayo Gabung di Penulis Sukses MIQRA INDONESIA




INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA






Blood Suckers!: Deadly Mosquito Bites (24/7: Science Behind the Scenes)Nyamuk dan Budidaya Ikan

PENYAKIT yang ditularkan nyamuk masih terus terjadi di wilayah Priangan, seperti di beritakan HU. Priangan dalam beberapa edisi. Warga yang terkena penyakit Filariasi (Kaki Gajah) di Kab. Tasik bertambah 3 orang. Semula, jumlah penderita ada 43 orang, namun saat ini bertambah menjadi 46 orang (Priangan, 7/1/2010). Diduga akibat pemanasan global, kawasan Desa Batulawang dan Desa Karyamukti Kota Banjar menjadi endemik Chikungunya. Jumlah penderita penyakit tersebut sebanyak 49 orang (Priangan, 8/1/2010). Sejak dua bulan lalu, ratusan warga Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis diduga (suspect) menderita Chikungunya (Priangan, 8/1/2010). Memasuki bulan Januari 2010, korban Chikungunya di wilayah Kec. Banjarsari cenderung meningkat secara singnifikan (Priangan, 9/1/2010).






ILMU MENJADI KAYA
3 JURUS Ampuh Menghasilkan UANG MELIMPAH Dari Internet. Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.




RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income 5 Jt/Bln? Ayo Gabung di Penulis Sukses MIQRA INDONESIA




INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA





Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita
Lihat Detail

Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita



Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita

Oleh Arda Dinata

”Nyamuk, lingkungan, dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.”

Nyamuk tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).


Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita

Oleh Arda Dinata

”Nyamuk, lingkungan, dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.”

Nyamuk tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).


Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita

Oleh Arda Dinata

”Nyamuk, lingkungan, dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.”

Nyamuk tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).


Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita

Oleh Arda Dinata

”Nyamuk, lingkungan, dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.”

Nyamuk tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).


Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita

Oleh Arda Dinata

”Nyamuk, lingkungan, dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.”

Nyamuk tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).