Your Ad Here
gravatar

Kawasan Bebas Rokok, Perlu Partisipatif Orangtua

Kawasan Bebas Rokok, Perlu Partisipatif Orangtua
Oleh ARDA DINATA
Email:
arda.dinata@gmail.com

MENTERI Pendidikan Nasional (Mendiknas), Yahya A Muhaimin pada tanggal 12 Oktober 2000 kemarin, mencanangkan kawasan bebas rokok bagi seluruh sekolah baik negeri maupun swasta mulai sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Pencanangan bebas rokok di kawasan pendidikan tersebut, tentunya harus kita dukung dengan sepenuh hati dalam pelaksanaannya. Terutama oleh komponen yang ada di sekolah, baik itu guru/dosen, siswa/mahasiswa dan karyawan tidak merokok selama berada di kawasan sekolah. Begitu juga prilaku kompenen ‘pendidik’ di lingkungan rumah (baca: orangtua dan anggota keluarga lainnya).

Sepintas, kita akan bertanya-tanya tentang seberapa besar derajat keberhasilan program itu. Mungkinkah, kita mampu melakukannya (perokok)? Apa sebenarnya yang melatar belakangi pencanangan kawasan bebas rokok itu. Lalu, bagaimana sebenarnya kondisi para perokok muda, dewasa ini. Dan yang lebih penting lagi, faktor-faktor apa yang dapat mendukung terealisasinya sekolah sebagai kawasan bebas rokok?

Adanya pencanangan sekolah sebagai kawasan bebas rokok, ternyata tidak sedikit yang menanggapinya secara skeptis. Pasalnya, pemerintah dan beberapa kalangan yang seharusnya menangani masalah rokok, selama ini tidak komitmen dan “menindak” terhadap para pelanggar yang telah dilakukan oleh produsen rokok dan prilaku perokok itu sendiri.

Secara umum (tidak hanya masalah rokok), orang Indonesia itu tergolong gemar membuat suatu peraturan-peraturan. Namun, pada akhirnya peraturan yang telah dibuat itu bukannya untuk dipatuhi dan ditegakkan, tetapi justru berkecenderungan dilanggarnya. Inilah mentalitas bangsa Indonesia yang harus sama-sama kita perbaharui.

Untuk itu, harapan terciptanya kawasan bebas rokok yang akan dicanangkan oleh Mendiknas tersebut, derajat keberhasilannya benar-benar akan berpulang kepada individu dan “keluarga” masing-masing. Paling tidak, pencanagan ini berharap terhadap dunia pendidikan yang berisikan kaum terpelajar dan terdidik itu, agar dapat memberikan teladan kepada masyarakat untuk tidak merokok. Karena merokok itu tidak hanya membahayakan kesehatan (mengakibatkan sakit radang paru-paru, stroke, kanker paru dan penyakit jantung), tetapi lebih dari itu dapat berakibat kerugian materi dan kerusakan lingkungan.

Dalam konteks ini, sebenarnya Depdiknas telah mengatur kawasan bebas rokok di sekolah sejak 1997 lewat Instruksi Mendikbud No. 41/U/1997, namun instruksi ini tidak sepenuhnya dijalankan oleh sekolah di pelosok Indonesia. Secara demikian, melalui pencanagan kawasan bebas rokok di sekolah tersebut diharapkan akan mendorong jajaran internal sekolah untuk kembali melaksanakan instruksi itu bukan hanya sebatas serimonial belaka.

Perokok Muda

Kalau kita sadar, satu batang rokok yang hanya seukuran pensil sepanjang sepuluh centimeter itu, nyatanya ibarat sebuah “pabrik kimia berjalan” yang menghasilkan beberapa bahan kimia berbahaya dan beracun. Yang mana dalam satu batang rokok yang dibakar (dihisap) itu mengeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia.

Adapun bahan kimia yang ada dalam rokok itu, diantaranya berupa Acrolein, Karbon monoxida, Nikotin, Ammonia, Formic acid, Hydrogen cyanide, Nitrous oxide, Formaldehyde, Phenol, Acetol, Hydrogen sulfide, Pyridine, Methyl chloride, Methanol, dan Tar (baca: “Anda Mau Berhenti Merokok? Pasti Berhasil!” oleh dr. R.A. Nainggolan; 1998:27-32).

Melihat kandungan rokok di atas, maka tidak disangsikan lagi akibat yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan merokok ini. Hal ini telah banyak dibuktikan dan diteliti melalui konseling-konseling yang hasilnya menyebutkan ada hubungan yang nyata antara timbulnya beberapa penyakit berbahaya dengan kebiasaan merokok seseorang.

Menurut estimasi Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), jumlah perokok di dunia ada sekitar 1,1 miliar perokok, dan sepertiga diantranya adalah perokok muda (usia 15 tahun). Secara global diketahui bahwa hampir 1 dari 2 orang (47 persen) laki-laki adalah perokok. Sementara dari kalangan perempuan hampir 1 dari 8 (12 persen) orang adalah perokok. Di negara berkembang, 48 persen laki-laki, dan 7 persen perempuan, adalah perokok. Angka yang sama mengalami pergeseran di negara-negara maju, yakni 42 persen dan 24 persen (Republika, 29/5/98).

Pada acara dialog tentang kampanye “The Role of Student in Anticipating Smoking Issues,” belum lama ini (4/10), di kampus Unpad Bandung, dipaparkan data bahwa di Indonesia terjadi peningkatan konsumsi rokok pada penduduk usia pelajar (kurang dari 15 tahun), dari 500 batang/tahun pada 1972 menjadi 1180 batang/tahun pada 1992 (meningkat dua kali lipat).

Dari survei WHO tahun 1985, diantaranya anak SD di Jakarta ditemukan 49 persen anak laki-laki dan 9 persen anak perempuan usia 10-14 tahun merokok setiap hari. Sementara survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1986 mengungkapkan bahwa 53 persen laki-laki usia kurang 10 tahun dan 4 persen perempuan merupakan perokok harian. Pada saat ini diperkirakan merokok dilakukan oleh 60 persen laki-laki dan 5 persen perempuan dalam segala usia (baca: Galamedia, 5/10/2000).

Faktanya tidak hanya itu, ternyata berdasarkan survei sosial ekonomi nasional (Susenas) tahun 1995, sebanyak 23 persen penduduk usia 10 tahun ke atas mempunyai kebiasaan merokok setiap hari, dan sekitar 90 persen dari mereka merokok di dalam ruangan. Lebih 50 persen dari perokok tersebut mulai merokok pada usia 15-19 tahun. Sementara itu, Badan Lingkungan Hidup Amerika (EPA, Environmental Protection Agency) mencatat tidak kurang dari 300 ribu anak-anak berusia antara 1 hingga 1,5 tahun menderita bronchitis dan pneumonia, karena turut menghisap asap rokok yang dihembuskan orang disekitarnya terutama ayah ibunya (Media Indonesia, 31/5/98). Hal yang terakhir itu, agaknya yang sering dilupakan atau lebih tepat diabaikan oleh para perokok. Padahal, lingkungan asap rokok (Environmental Tobacco Smoke, ETS) juga berakibat serius terhadap kesehatan non-perokok, baik dewasa maupun anak-anak.

Menurut WHO, ETS adalah penyebab penyakit, seperti kanker paru-paru dan jantung koroner, yang juga mengenai orang sehat yang bukan perokok. Paparan asap rokok yang dialami terus menerus menambah risiko terkena kanker paru-paru dan penyakit jantung sebesar 20-30 persen pada orang dewasa yang sehat. Di samping itu, ETS dapat memperburuk kondisi orang yang memiliki asma, melemahkan dan merusak sirkulasi darah, menyebabkan bronchitis dan pneumonia. Asap rokok juga sering menyebabkan iritasi mata dan saluran nasal/hidung (Republika, 31/5/98).

Fakta di atas, memperlihatkan kepada kita akan terjadinya peningkatan jumlah perokok dari kelompok anak dan remaja. Hal ini tentunya diakibatkan oleh sejumlah faktor yang kompleks dan saling berkait, yang memberi prakondisi bagi remaja untuk merokok. Namun demikian, seperti dilansir harian Jawa Pos (2/6/1998) bahwa berdasarkan hasil studi belasan tahun menemukan yang paling umum adalah penerimaan produk tembakau, pajangan promosi pemasaran rokok, kemudahan mendapatkannya, adanya contoh dari orang dewasa, dan kelompok sebaya.

Keampuhan iklan perusahan rokok itu, diakui pula oleh Mr. Allan Landers, Duta WHO. Menurut Mr. Allan, peningkatan konsumsi rokok tersebut tak terlepas dari peranan iklan perusahaan rokok secara besar-besaran baik media cetak maupun elektronik. Sebuah studi longitudinal mengungkapkan adanya hubungan kausal antara aktivitas promosi dan kebiasaan merokok. Semakin tinggi tingkatan penerimaannya terhadap iklan atau promosi rokok, semakin besar kemungkinan untuk merokok serta terus melakukannya. Para peneliti memperkirakan, 34 persen remaja belasan tahun mulai merokok akibat aktivitas promosi perusahan rokok (Galamedia, 5/10/2000).

Alternatif Pencegahan

Menyimak beberapa akibat dari kebiasaan merokok di atas, semoga semakin membulatkan tekad kita bersama untuk mendukung pencanagan “Sekolah sebagai Kawasan Bebas Rokok.” Untuk itu, merujuk pada teori yang diungkapkan Hendrik L. Bloom, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia, diantaranya akibat faktor lingkungan mempengaruhi sebesar 40 persen, faktor prilaku 35 persen, faktor upaya pelayanan kesehatan 20 persen, dan faktor keturunan 5 persen.

Secara demikian, penciptaan kondisi kawasan bebas rokok ini akan memperkecil ruang untuk tersalurnya keinginan merokok, karena faktor lingkungan dan prilaku seseorang itu memiliki porsi terbesar dalam terciptanya kebiasaan untuk merokok. Selain itu, merujuk kepada pandangan yang mengatakan bahwa pola pendidikan pada anak yang efektif adalah berawal dari rumah kita. Berikut ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah merokok sejak anak-anak (baca: melalui penciptaan kawasan bebas rokok).

Pertama, memberi contoh yang baik. Cara yang efektif dan terbaik untuk menjauhkan anak dari kebiasaan dan bahaya merokok, tentu dengan sendirinya kita (sebagai orangtua) tidak merokok. Anak-anak umumnya lebih mudah terpengaruh oleh contoh nyata yang dilihatnya dari pada mendengar larangan atau pun perintah untuk tidak merokok secara lisan.

Kedua, melalui pendidikan. Orangtua sebagai pilar pendidikan anak-anak di rumah, sebaiknya sesering mungkin berdiskusi dan menjelaskan kepada anak-anak tentang efek jangka pendek akibat merokok, seperti sulit bernapas, tenggorokan merasa gatal dan kering, sampai efek jangka panjangnya (misalnya timbulnya penyakit kanker paru-paru, kebutaan, dan terganggunya ekonomi keluarga). Tanamkan juga pada diri setiap anak bahwa tidak benar pendapat yang menyebutkan kalau prilaku merokok itu suatu yang menantang keberanian dan menampakkan kedewasaan serta kematangan seseorang.

Ketiga, para pendidik di sekolah hendaknya memberi teladan yang baik bagi anak didiknya. Janganlah membiasakan merokok di depan anak didiknya. Begitu juga di sekolah harus sering dikampanyekan program anti rokok. Kampanye anti rokok di sekolah merupakan pendeketan lain yang dapat mencegah anak menjadi perokok. Lebih baik lagi, bila melibatkan dan mengikutsertakan beberapa anak didik yang menjadi “pemimpin” grup untuk mengimformasikan pesan-pesan efek negatif merokok, serta menentukan sangsi apa yang akan dikenakan bagi mereka yang melanggar dan tentunya dilakukan secara demokratis antara pengelola pendidikan dan peserta didik.

Tindakan tersebut akan lebih efektif lagi, jika pemerintah benar-benar komitmen dalam menegakkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 81 tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, serta PP No. 38 tahun 2000 tentang perubahan PP No. 81 tahun 1999. Jadi, untuk mendapatkan hasil maksimal dalam menciptakan kawasan bebas rokok (terutama) di tempat-tempat umum, tentu memerlukan dukungan semua pihak, lebih-lebih dari orang tua sebagai pendidik di dalam rumah. Hal ini tentunya harus didukung oleh setiap lapisan masyarakat. Lebih-lebih bagi ummat Islam, kebiasaan merokok ini adalah tergolong perbuatan yang makruh dan suatu hal yang sia-sia (baca: mubadzir). Mengapa, uang untuk rokok tidak kita manfaatkan saja bagi hal-hal lain yang lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri dan lebih-lebih bagi orang lain?

Dalam hal ini, Allah SWT melarang kita untuk menghambur-hamburkan harta, seperti ditegaskan dalam QS. Al-Isro: 26, yaitu: “Janganlah menghambur-hamburkan hartamu dengan boros, karena pemborosan itu adalah saudaranya setan.” Demikian pula Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Allah membencimu karena kamu menyia-nyiakan harta.” (HR. Bukhari-Muslim). Semoga kita terhindar dari orang-orang yang demikian. Wallahu’alam bishawab.***

(Arda Dinata, AMKL., ahli kesehatan lingkungan dan Pengajar di Akademi Kesehatan Lingkungan/AKL Kutamaya Bandung).

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.


DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://www.megabuku.com?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Selamat Menikmati Tulisan-Tulisan Yang Penuh Inspirasi, Ilmu, Motivasi dan Amal Yang Bikin Hidup Anda Sukses Secara Islami di Blog Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA] INDONESIA. Blog Ini Didirikan oleh ARDA DINATA, Seorang Penulis Merdeka. Salam SUKSES....dari MIQRA Indonesia!!!

Assalamu'alaikum wr wb Selamat datang di MIQRA INDONESIA GROUP.
 | 


Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS: Caranya SMS dengan format sbb: REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..- Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.- Lalu SMS ke: 081320476048

http://www.who.or.id


BLOG IS MY SALESMAN ARDA DINATA:
ARDA BLOGGING SUCCESS:
| Arda News Success | Blogging Success | Wisdom Business | Quantum Writers | Inspiring Intelligence | Mosquito & Public Health | Getting Rich | Writers Success | Sprituality Health | Farmakologi | Sanitary | Physiology | House Keeping | Pollution News | Photografy|


| ARDA EKLIPING INDONESIA | Cara Menjadi Kaya | Dunia Kesehatan Spritual | Dunia Pustaka dan Referensi | Dunia Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang | Dunia Kesehatan Lingkungan | ALIFIA E-Clipping and Reviewing | Reuse News Indonesia | ARDA Reseller News | Rahasia Penulis Sukses | Reseller News Indonesia |

MENU ARDA EKLIPING INDONESIA:
| BERANDA KLIPING | KLIP IPTEK | KLIP PSIKOLOGI | KLIP WANITA | KLIP KELUARGA | KLIP ANAK CERDAS | KLIP BELIA & REMAJA | KLIP GURU & PENDIDIKAN | KLIP HIKMAH & RENUNGAN |

MENU HIDUP SEHAT DAN KAYA:
| Dunia Spritual dan Kesehatan | Rahasia Menjadi Kaya | Dunia Reseller | Reuse News | Pustaka Bisnis |

MENU ARDA PENULIS SUKSES:
| Inspirasi Penulis | Rahasia Penulis | Media Penulis | Sosok Penulis | Pustaka Penulis |

MENU AKADEMI PEMBERANTASAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG:
| Dunia P2B2 | Dunia NYAMUK | Dunia LALAT | Dunia TIKUS | Dunia KECOA | Pustaka P2B2 |

MENU AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN:
| Inspirasi ARDA | Dasar KESLING | P.Sampah | Tinja & Aair Limbah | Binatang Pengganggu | Rumah & Pemukiman Sehat | Pencemaran Lingkungan Fisik | HYPERKES | Hygiene Sanitasi Makanan | Sanitasi Tempat Umum | Air Bersih | Pustaka Kesehatan |

MENU MIQRA INDONESIA:
| Home Inspirasi | Opini | Optimis | Sehat-Healthy | Keluarga-Family Life | Spirit-Enthusiasm | Ibroh-Wisdom | Jurnalistik | Lingkungan-Environment | Business | BooK | PROFIL | Jurnal MIQRAINDO | Reseller News Indonesia |

DAFTAR KORAN-MAJALAH INDONESIA:
| Pikiran Rakyat | KOMPAS | Galamedia | Republika | Koran Sindo | Bisnis Indonesia | Sinar Harapan | Suara Pembaruan | Suara Karya | Suara Merdeka | Solo Pos | Jawa Pos | The Jakarta Post | Koran Tempo | Media Indonesia | Banjarmasin Post | Waspada | Suara Indonesia Baru | Batam Pos | Serambi Indonesia | Sriwijaya Post | Kedaulatan Rakyat | Pontianak POS | Harian Fajar | Harian Bernas | Bangka Post | Harian Surya | Metro Banjar | Pos Kupang | Serambi Indonesia | Kontan | Majalah Gamma | Majalah Gatra | Majalah Angkasa | Majalah Intisari | Majalah Info Komputer | Majalah Bobo | Majalah Ummi | Majalah Sabili | Majalah Parentsguide | Majalah Suara Muhammadiyah | Majalah Amanah | Majalah Tabligh | Majalah Insight |Majalah Annida | Majalah Network Business | Tabloid PC+ | Majalah Komputer Easy | Tabloid NOVA |Loka Litbang P2B2 Ciamis |


MIQRA INDONESIA GROUP
Kantor Pusat
: Jl. Raya Panganadaran Km.3 Pangandaran Ciamis 46396
Telp. (0265) 630058
Copyright © 2006-2010, Miqra Indonesia,
Email : miqra_indo@yahoo.co.id
Homepage : http://www.miqra.blogspot.com/
Design by Arda Dinata,
Wong Tempel Kulon - Kec. Lelea - Kab. Indramayu - Indonesia